Apakah Kita Butuh “Pengawas” untuk Jadi Baik? Ini Penjelasan dari Sudut Pandang Otak!

Sebagian orang merasa bahwa sosok pengawas—seperti aturan agama atau kekuatan yang lebih besar—sangat penting untuk membantu mereka merasa aman dan menjalani hidup dengan baik. Sementara itu, ada juga yang merasa nyaman tanpa kehadiran sosok tersebut dan tetap hidup dengan nilai-nilai yang mereka pegang sendiri. Mengapa bisa ada perbedaan seperti ini?

Secara ilmiah, perbedaan ini sebagian bisa dijelaskan oleh dua bagian utama di otak kita yang bertanggung jawab atas bagaimana kita merespons situasi dan keputusan yang melibatkan ketakutan atau risiko, yaitu amigdala dan korteks prefrontal. Kedua bagian ini punya peran berbeda, tapi sama-sama penting dalam memengaruhi cara kita merespons dunia dan mengambil keputusan.

Bagaimana peran kedua bagian otak ini dalam membentuk cara pandang kita terhadap nilai-nilai dalam hidup? Yuk, kita bahas lebih dalam!

Amigdala: Alarm Otak yang Berfungsi sebagai Sistem Peringatan Dini

Amigdala adalah bagian otak kecil berbentuk almond yang berperan penting dalam mengatur emosi, terutama yang berkaitan dengan rasa takut dan kewaspadaan. Ketika kita dihadapkan pada situasi yang tampak berbahaya atau tidak dikenal, amigdala akan aktif dan memberikan sinyal bahaya. Contohnya, jika kita mendengar suara keras mendadak, amigdala kita akan langsung mengaktifkan respons “fight or flight” untuk melindungi diri. Amigdala ini membantu kita mengenali dan merespons ancaman dalam waktu singkat.

Namun, di sisi lain, amigdala yang terlalu sensitif bisa membuat kita mudah merasa takut atau curiga pada hal-hal baru atau yang berbeda dari kebiasaan kita. Penelitian oleh Ryota Kanai, Tom Feilden, Colin Firth, dan Geraint Rees (2011) menunjukkan bahwa ukuran amigdala berkaitan dengan kecenderungan orang untuk merasa cemas atau takut pada ketidakpastian. Dengan kata lain, semakin besar amigdala seseorang, kemungkinan besar dia akan merasa lebih waspada, terutama terhadap perubahan atau hal-hal yang dianggap asing. Ini menjelaskan mengapa sebagian orang merasa butuh aturan atau sosok eksternal untuk menenangkan rasa cemas dan menjaga mereka tetap merasa aman.

Contoh sehari-harinya bisa dilihat ketika seseorang harus berhadapan dengan ide-ide baru atau teknologi yang belum pernah mereka gunakan. Orang dengan amigdala yang lebih sensitif mungkin akan lebih cepat merasa cemas atau menolak perubahan tersebut, karena hal itu dianggap bisa mengganggu keamanan atau ketertiban yang selama ini mereka yakini.

Korteks Prefrontal: Bagian Otak yang Mengatur Logika dan Kendali Diri

Sementara itu, korteks prefrontal adalah bagian otak yang berfungsi dalam proses berpikir logis, mengambil keputusan, dan mengendalikan emosi. Korteks prefrontal memungkinkan kita untuk melihat situasi secara objektif dan menimbang risiko dengan lebih bijak, bukannya langsung terpengaruh oleh respons emosional. Contohnya, ketika kita menghadapi masalah yang tampaknya sulit, korteks prefrontal memberi kita kemampuan untuk memecahkan masalah tersebut tanpa panik atau terburu-buru.

Menurut riset dari David Amodio, John Jost, Sarah Master, dan Cindy Yee (2007), korteks prefrontal cenderung lebih aktif pada orang yang memiliki pola pikir terbuka terhadap pengalaman baru. Aktivitas korteks ini juga membantu mengendalikan respons amigdala agar kita tidak terlalu cepat merasa takut atau cemas. Dengan adanya kontrol dari korteks prefrontal, kita bisa lebih tenang menghadapi sesuatu yang baru atau asing tanpa langsung berpikir itu mengancam.

Sebagai contoh, jika kita diminta untuk mencoba makanan yang tidak kita kenal, korteks prefrontal membantu kita berpikir, “Mungkin makanan ini aman dan bisa aku coba,” alih-alih langsung menolak hanya karena berbeda dari yang biasa kita makan. Orang yang memiliki korteks prefrontal yang lebih dominan akan cenderung lebih penasaran dan terbuka terhadap pengalaman atau informasi baru, dan mereka tidak terlalu dipengaruhi oleh ketakutan yang berasal dari amigdala.

Contoh Perbedaan Respons Amigdala dan Korteks Prefrontal dalam Kehidupan Sehari-hari

  1. Ketika Berhadapan dengan Berita yang Berbau Ancaman: Seseorang dengan amigdala yang lebih dominan mungkin akan merasa ketakutan atau panik saat mendengar berita yang menyinggung ancaman terhadap keamanan mereka. Misalnya, ketika mendengar berita tentang peningkatan kriminalitas, mereka mungkin langsung merasa perlu mengambil tindakan defensif seperti menghindari tempat-tempat ramai. Di sisi lain, orang dengan korteks prefrontal yang lebih dominan akan lebih rasional dan mencoba memverifikasi informasi terlebih dahulu atau meneliti lebih lanjut sebelum mengambil keputusan.
  2. Menghadapi Perbedaan Pandangan atau Budaya: Orang dengan amigdala dominan mungkin merasa terancam atau cemas ketika berhadapan dengan orang yang memiliki pandangan atau latar belakang budaya yang berbeda, karena ini dianggap mengganggu ketertiban yang mereka yakini. Sebaliknya, orang dengan korteks prefrontal yang dominan cenderung akan lebih bersikap terbuka dan mencoba memahami latar belakang orang lain, meskipun itu berbeda dari pandangan mereka.

Motivasi: Locus of Control Internal vs Eksternal

Selain peran amigdala dan korteks prefrontal, ada konsep psikologis yang membantu kita memahami mengapa sebagian orang merasa perlu ada sosok pengawas untuk hidup mereka, yakni locus of control. Orang dengan internal locus of control merasa hidup mereka ditentukan oleh tindakan dan keputusan sendiri, sementara mereka yang memiliki eksternal locus of control merasa hidup mereka lebih ditentukan oleh faktor-faktor luar, seperti aturan atau otoritas.

Menurut Julian Rotter (1966), orang dengan eksternal locus of control cenderung lebih mudah terpengaruh oleh pengaruh luar untuk menjaga mereka tetap dalam jalur yang baik, termasuk aturan agama atau sosial, karena mereka merasa lebih tenang dengan adanya panduan ini. Sementara itu, mereka dengan internal locus of control merasa cukup percaya diri untuk menentukan jalan hidupnya tanpa pengaruh dari luar.

Pentingnya Memahami Perbedaan

Setiap orang memiliki cara pandang dan pendekatan berbeda dalam hidup. Sebagian orang merasa aman dengan adanya aturan atau sosok pengawas, sementara yang lain merasa cukup dengan nilai-nilai internal yang mereka pegang. Memahami peran otak dalam respons emosional dan logis ini membantu kita melihat bahwa kedua pilihan ini sama-sama valid, dan perbedaan ini perlu kita hormati agar dapat hidup berdampingan dengan damai.


Daftar Referensi

  1. Kanai, Ryota; Feilden, Tom; Firth, Colin; & Rees, Geraint. (2011). Political orientations are correlated with brain structure in young adults. Current Biology, 21(8), 677-680.
  2. Amodio, David M.; Jost, John T.; Master, Sarah L.; & Yee, Cindy M. (2007). Neurocognitive correlates of liberalism and conservatism. Nature Neuroscience, 10(10), 1246-1247.
  3. Rotter, Julian B. (1966). Generalized expectancies for internal versus external control of reinforcement. Psychological Monographs: General and Applied, 80(1), 1-28.

Tinggalkan Komentar