
Di banyak tempat di Indonesia, ada pola yang mirip dan mudah dikenali: orang-orang merasa terganggu oleh hal-hal yang sebenarnya tidak menyentuh hidup mereka sedikit pun. Seseorang tampil berbeda? Dipandang sebagai ancaman. Anak kecil aktif dan ribut? Dianggap masalah besar. Perilaku orang lain yang netral tiba-tiba menjadi sumber kegelisahan kolektif.
Fenomena ini membuat kita bertanya: kenapa ketakutan-ketakutan itu terasa tidak proporsional?
Jawabannya tidak sesederhana “orangnya sensitif”. Ada faktor psikologis dan sosiologis yang saling menguatkan. Salah satunya adalah cara otak manusia bekerja ketika tidak terbiasa berpikir kritis. Dalam neurologi, ada istilah threat inflation—atau kecenderungan otak untuk membesar-besarkan bahaya yang tidak nyata. Ketika seseorang tidak dilatih menilai risiko secara logis, ancaman yang sebenarnya tidak ada bisa terasa seolah nyata.
Perilaku orang lain yang hanya berbeda pun dianggap membahayakan, padahal tidak ada relevansi sebab-akibat sama sekali.
Ini bukan sekadar soal kecerdasan rendah. Banyak masyarakat yang sebenarnya pintar dalam kehidupan sehari-hari, tapi lingkungan pendidikan kita tidak menekankan logika dan pemahaman. Dari SD sampai SMA, anak diajari menghafal, bukan memahami. Tidak ada ruang untuk membiasakan analisis, skeptisisme sehat, atau berpikir tenang sebelum bereaksi.
Maka tumbuhlah generasi yang tidak terlatih menilai risiko dengan benar—dan secara naluriah membesar-besarkan bahaya.
Ketakutan itu lalu diwariskan. Rumor, larangan tanpa konteks, nasihat turun-temurun yang tidak pernah ditinjau ulang. “Jangan begini, nanti sial.” “Jangan begitu, nanti bahaya.” Pola pikir seperti ini menciptakan masyarakat yang hidup dalam mode bertahan, selalu siap melawan ancaman yang sebenarnya tidak ada.

Akhirnya, yang terjadi bukan moralitas, tapi kecemasan yang dikemas seolah aturan sosial.
Ketika kecemasan kolektif ini bertemu orang yang tampil berbeda, muncullah fenomena yang bisa disebut sebagai paranoid berjamaah—sebuah kecenderungan kelompok untuk menganggap hal netral sebagai ancaman bersama, lalu menekan individu agar ikut takut juga. Seakan-akan, kalau mayoritas takut, semua orang wajib merasa sama.
Padahal, manusia secara biologis memang cenderung menjauhi yang tidak familiar. Dalam psikologi ada istilah uncertainty avoidance—ketidaknyamanan ekstrem terhadap hal yang tidak sesuai kebiasaan. Jika kemampuan berpikir kritis lemah, mekanisme ini berubah menjadi prasangka. Orang bukan hanya heran, tapi juga panik.
Dan dari kepanikan itu, lahirlah dorongan untuk mengontrol orang lain, agar dunia kembali terasa “aman”.
Namun yang sering tidak disadari adalah: ketakutan pribadi tidak otomatis menjadi ancaman publik.
Jika seseorang berbeda, itu bukan indikasi bahaya. Jika anak berkonflik dengan teman, itu bukan kegagalan moral. Jika ada cara hidup yang tidak sesuai imajinasi mayoritas, itu bukan red flag.
Masalah muncul ketika masyarakat menolak memeriksa ulang ketakutannya, lalu menyeret orang lain ke dalamnya.
Keluar dari budaya ketakutan ini bukan hal instan. Perlu pembiasaan berpikir logis sejak dini: memahami sebab-akibat, melihat data, membedakan bahaya nyata dan bahaya imajiner. Perlu literasi sains yang membuat orang merasa aman karena mengerti dunia, bukan takut karena tidak mengerti.
Perlu keberanian untuk berhenti bereaksi berlebihan, dan mulai bertanya: “Apakah ini benar-benar berbahaya, atau hanya sesuatu yang tidak familiar bagi saya?”
Pada akhirnya, masyarakat yang sehat bukanlah masyarakat yang paling taat pada aturan informal.
Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang paling mampu berpikir.




















