
Salah satu ayat dalam Al-Qur’an yang sering menjadi bahan diskusi adalah mengenai asal-usul air mani manusia. Dalam QS At-Tariq (86:6-7) disebutkan:
“(Manusia) diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara sulbi (tulang belakang) dan tara’ib (tulang dada).”
Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah benar air mani manusia berasal dari antara tulang belakang dan tulang dada? Jika dibandingkan dengan ilmu pengetahuan modern, terdapat beberapa ketidaksesuaian yang perlu dikaji lebih dalam.
1. Fakta Ilmiah tentang Produksi Air Mani
Secara biologis, air mani terdiri dari dua komponen utama:
- Sperma, yang diproduksi di testis.
- Cairan seminalis, yang diproduksi oleh kelenjar prostat, vesikula seminalis, dan kelenjar bulbouretral.
Proses produksi dan pelepasan sperma mengikuti tahapan berikut:
- Testis menghasilkan sperma.
- Epididimis menyimpan sperma sementara.
- Vas deferens mengangkut sperma.
- Kelenjar prostat dan vesikula seminalis menambahkan cairan untuk membentuk semen.
- Sperma dikeluarkan melalui uretra saat ejakulasi.
Dari sudut pandang anatomi, seluruh proses ini terjadi di area panggul dan organ reproduksi, bukan di antara tulang belakang (sulbi) dan tulang dada (tara’ib), sebagaimana yang disebutkan dalam ayat tersebut.

2. Arti Kata Sulbi dan Tara’ib
Dalam bahasa Arab:
- Sulbi (الصُّلْبِ) berarti tulang belakang atau punggung.
- Tara’ib (التَّرَائِبِ) merujuk pada tulang dada, tulang selangka, atau bagian atas dada.
Jika ayat ini dipahami secara harfiah, maka dinyatakan bahwa air mani berasal dari area antara tulang belakang dan tulang dada—yang secara anatomi tidak benar.
3. Asal Pemahaman Ini dalam Sejarah
Konsep bahwa sperma berasal dari tulang belakang atau daerah sekitarnya bukan hanya ditemukan dalam Islam. Pemahaman ini berasal dari ilmu kedokteran Yunani kuno, khususnya dari:
- Hippokrates (460–370 SM), yang mengajarkan bahwa sperma berasal dari seluruh tubuh tetapi terutama dari bagian belakang.
- Galen (129–216 M), yang berpendapat bahwa sperma diproduksi di sekitar tulang belakang dan dipanaskan oleh tubuh sebelum dikeluarkan.
Ilmu kedokteran Yunani ini banyak mempengaruhi dunia Arab abad ke-7, termasuk di wilayah Mekkah dan Madinah. Oleh karena itu, kemungkinan besar konsep ini terbawa ke dalam pemahaman Islam pada saat itu.
4. Upaya Mencocokkan Ayat dengan Sains
Beberapa apologis Islam berusaha menafsirkan ulang ayat ini agar sesuai dengan ilmu modern, misalnya:
- Mengatakan bahwa “sulbi” sebenarnya mengacu pada panggul, bukan tulang belakang.
- Menyatakan bahwa “tara’ib” bukan tulang dada, tetapi area ginjal.
- Mengklaim bahwa ayat ini merujuk pada embriologi, bukan produksi sperma.
Namun, argumen-argumen ini tidak memiliki dasar kuat dalam tafsir klasik maupun sains modern. Secara harfiah, ayat ini tetap tidak sesuai dengan fakta anatomi manusia.

Kesimpulan
- Ilmu pengetahuan modern telah membuktikan bahwa air mani tidak berasal dari antara tulang belakang dan tulang dada, melainkan diproduksi di testis dan kelenjar reproduksi.
- Pemahaman yang ada dalam ayat ini kemungkinan besar berasal dari teori kedokteran kuno yang kini telah terbukti keliru.
- Upaya mencocokkan ayat ini dengan ilmu modern sering kali justru bertentangan dengan makna linguistik aslinya.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun Al-Qur’an memiliki nilai spiritual dan historis yang tinggi, tidak semua isinya sesuai dengan pengetahuan ilmiah masa kini.