
Salah satu ajaran paling absurd dalam Islam yang sering luput dari sorotan kritis adalah anjuran membunuh cicak. Dalam berbagai hadis sahih, disebutkan bahwa membunuh cicak bukan hanya dibolehkan, tapi juga berpahala. Tidak main-main, ada sistem reward seperti dalam game untuk menentukan seberapa besar pahala yang didapat dari membunuh cicak dalam sekali pukulan!
Hadis-Hadis yang Menganjurkan Membunuh Cicak
Ajaran ini bukan sekadar mitos atau interpretasi liar, tapi memang tertulis dalam beberapa hadis sahih yang menjadi pegangan utama umat Islam:
- Hadis Shahih Muslim (2240)
“Barang siapa yang membunuh cicak dalam satu kali pukulan, maka ditulis baginya seratus kebaikan. Jika membunuhnya dalam pukulan kedua, maka ditulis baginya kurang dari itu. Jika membunuhnya dalam pukulan ketiga, maka ditulis baginya kurang dari itu.” - Hadis Shahih Bukhari (3359)
“Nabi memerintahkan untuk membunuh cicak dan menyebutkan bahwa ia meniup api kepada Ibrahim.” - Hadis Sunan Abu Dawud (5262)
“Barang siapa membunuh cicak, maka baginya pahala.”
Dari sini, terlihat jelas bahwa membunuh cicak bukan hanya diizinkan, tapi bahkan dikaitkan dengan pahala. Sebuah konsep yang ironis jika dibandingkan dengan klaim bahwa Islam adalah agama damai dan penyayang.
Logika Absurd: Cicak dan Konspirasi Nabi Ibrahim
Apa alasan di balik kebencian Islam terhadap cicak? Menurut hadis, cicak memiliki sejarah kelam karena dulu “meniup api” agar membakar Nabi Ibrahim lebih cepat. Pertanyaannya, bagaimana Nabi Muhammad mengetahui kejadian ini? Apakah ada dokumentasi sejarah Babilonia yang mencatat perbuatan cicak tersebut? Atau mungkin wahyu khusus tentang konspirasi cicak purba?
Lebih lucu lagi, jika memang ada seekor cicak di masa lalu yang meniup api ke Ibrahim, mengapa semua cicak modern harus menanggung dosanya? Bukankah ini sama konyolnya seperti mengatakan bahwa semua manusia harus dibasmi karena ada manusia jahat di masa lalu?
Sadisme yang Dibenarkan Agama
Salah satu hal yang membuat ajaran ini semakin menggelikan adalah sistem skoring untuk membunuh cicak:
- One-shot kill → 100 pahala 🎯
- Two-shot kill → downgraded pahala 😢
- Three-shot kill → cuma dikit dapetnya, cupu! 🥱
Ini agama atau game RPG? Sejak kapan ada sistem ranking dalam kekerasan terhadap makhluk hidup? Kalau membunuh cicak berpahala, kenapa membunuh kecoa, nyamuk, atau tikus tidak mendapatkan point system yang sama?
Lebih ironis lagi, banyak Muslim yang mengklaim bahwa Islam mengajarkan kasih sayang terhadap semua makhluk hidup. Lalu, bagaimana dengan cicak yang tidak bersalah ini? Tidak ada bukti bahwa cicak berkonspirasi melawan Ibrahim, tidak ada alasan logis untuk membenci mereka, tapi tiba-tiba ada fatwa massal untuk membasmi mereka dengan iming-iming pahala.

Mau Jadi Baik? Bunuh Cicak Dulu!
Logikanya gini: mau jadi orang baik? kamu bisa memulainya dengan membunuh cicak! Jangan bantu sesama, jangan bersikap adil, jangan tolong orang yang kesusahan… tapi bunuh cicak dulu! 😂
Kalau beneran ada Tuhan yang maha baik, masa iya Dia lebih peduli sama jumlah cicak yang kita bunuh dibanding perbuatan baik lain? Kalau ada yang percaya ini sebagai standar moral, ya pantes aja dunia masih kacau.
Pembelaan Absurd: “Bukan Cicak, Tapi Kadal Berbahaya”
Sebagian ulama modern mencoba membela ajaran ini dengan mengatakan bahwa yang dimaksud bukan cicak rumahan, melainkan kadal berbahaya zaman dulu. Namun, hadisnya tidak pernah menyebutkan spesies tertentu, hanya menyebut “cicak” secara umum. Jika benar yang dimaksud adalah kadal tertentu, mengapa tidak ada spesifikasi yang jelas? Kenapa akhirnya semua cicak jadi sasaran pembunuhan massal tanpa alasan?
Islamofobia atau Realita?
Ketika orang luar mengkritik Islam karena ajaran seperti ini, umat Muslim sering berteriak “Islamofobia!” tanpa mau menghadapi kenyataan. Padahal, jika ajaran membunuh cicak ini begitu absurd dan tidak masuk akal, itu bukan salah orang yang mengkritik. Itu adalah masalah dalam ajaran itu sendiri.
Jika Islam benar-benar mengajarkan kedamaian, maka umat Muslim harus mulai bertanya: mengapa ada anjuran kekerasan terhadap makhluk tak berdosa seperti cicak? Dan lebih penting lagi, apakah agama yang memiliki ajaran seabsurd ini masih layak dianggap sebagai pedoman moral bagi kehidupan manusia modern?