
Dalam beberapa tahun terakhir, Disney tampaknya mengalami perubahan besar dalam cara mereka memproduksi film. Dari penggantian karakter ikonik dengan pemeran yang lebih “beragam” hingga memasukkan elemen sosial-politik dalam film anak-anak, keputusan-keputusan ini telah memicu perdebatan sengit di kalangan penggemar dan kritikus film. Apakah Disney benar-benar menjalankan agenda politik, atau justru mereka hanya salah strategi dalam beradaptasi dengan zaman?
Keberagaman yang Alami vs. Keberagaman yang Dipaksakan
Disney sebenarnya bukan pendatang baru dalam hal keberagaman. Sejak dulu, mereka telah menciptakan karakter dari berbagai latar belakang budaya tanpa menimbulkan kontroversi. Beberapa contoh yang sukses adalah:
• Aladdin yang menggambarkan budaya Timur Tengah,
• Mulan yang mengangkat cerita dari China,
• Pocahontas yang mengisahkan sejarah suku asli Amerika,
• Moana yang menghadirkan budaya Polinesia dengan otentik,
• The Princess and the Frog yang menampilkan Tiana sebagai putri Disney kulit hitam pertama.
Film-film ini diterima dengan baik karena dibuat dengan riset budaya yang kuat dan cerita yang organik. Keberagaman ini terasa alami dan tidak dibuat-buat. Bandingkan dengan tren Disney akhir-akhir ini, yang lebih memilih mengubah karakter lama daripada menciptakan karakter baru. Contohnya:
• Ariel dalam The Little Mermaid yang awalnya berkulit putih dan berambut merah diubah menjadi berkulit hitam tanpa alasan yang kuat dalam cerita,
• Snow White yang secara harfiah berarti “Putih seperti Salju” justru diperankan oleh aktris berdarah Latin,
• Tujuh Kurcaci dalam Snow White digantikan dengan kelompok yang lebih “beragam”, tanpa mempertimbangkan akar cerita aslinya.
Hal ini menimbulkan pertanyaan besar: Apakah ini benar-benar demi keberagaman, atau hanya keputusan malas dari Disney untuk mencentang kotak “inklusivitas” tanpa usaha nyata?
Feminisme Radikal: Membuat Karakter Perempuan Kuat dengan Merusak Karakter Laki-laki?

Selain mengganti karakter klasik, Disney juga terlihat berusaha menampilkan lebih banyak tokoh perempuan kuat. Namun, alih-alih membangun mereka dengan cara yang alami, Disney justru seringkali merendahkan karakter laki-laki untuk mengangkat tokoh perempuan. Beberapa contohnya:
• The Marvels (2023), di mana karakter perempuan dibuat terlalu kuat tanpa tantangan yang berarti, sementara karakter laki-lakinya hampir tidak memiliki peran penting.
• Indiana Jones and the Dial of Destiny, yang membuat Indiana Jones terlihat seperti karakter tua yang tidak kompeten, sementara karakter perempuan baru (Helena) selalu lebih pintar dan lebih tangguh darinya.
• She-Hulk, yang terang-terangan mengejek karakter Hulk dan karakter laki-laki lainnya, membuat pesan feminisme terasa lebih sebagai serangan daripada pemberdayaan.
Ini berbeda dengan karakter perempuan kuat yang sukses sebelumnya seperti Mulan, Moana, dan Belle dari Beauty and the Beast, yang tetap menarik tanpa harus menjatuhkan karakter laki-laki di sekitarnya.
LGBTQ+ dan Ideologi Gender dalam Film Anak-anak
Disney juga mulai memasukkan unsur LGBTQ+ dalam film anak-anak, sesuatu yang sebelumnya mereka hindari karena target pasar mereka lebih konservatif. Contohnya:
• Lightyear (2022), yang menghadirkan adegan ciuman sesama jenis tanpa konteks yang relevan dalam cerita, membuat beberapa negara bahkan melarang penayangannya.
• Strange World (2022), yang menampilkan karakter remaja LGBTQ+ secara eksplisit.
Banyak orang tidak mempermasalahkan keberadaan representasi LGBTQ+, tetapi mereka merasa bahwa Disney terlalu agresif dalam memasukkan elemen ini ke film anak-anak tanpa mempertimbangkan bagaimana dampaknya terhadap penonton utama mereka.
Apakah Ini Agenda Politik atau Sekadar Salah Strategi?

Apakah Disney benar-benar sedang menjalankan agenda politik? Ataukah mereka hanya salah strategi dalam merespons perubahan zaman? Bisa jadi jawabannya adalah keduanya.
Disney mungkin melihat tren sosial yang berkembang dan berpikir bahwa mereka harus menjadi pemimpin dalam inklusivitas. Namun, cara mereka melakukannya sering kali terasa tergesa-gesa, tidak tulus, dan bahkan merusak warisan karakter yang telah dicintai selama puluhan tahun. Bandingkan dengan film-film seperti Black Panther, Encanto, dan Coco, yang menampilkan keberagaman dengan cara yang lebih alami dan tetap sukses di pasaran.
Kesalahan terbesar Disney adalah mereka tidak mau mendengarkan kritik dari penonton. Sementara studio lain seperti Paramount dengan Sonic the Hedgehog rela mengubah desain karakter setelah mendapat kritik publik (dan akhirnya sukses besar), Disney justru tetap ngeyel meskipun film-film mereka mengalami kegagalan berturut-turut.
Apa Masa Depan Disney?
Kalau Disney tetap mempertahankan pendekatan mereka saat ini, ada beberapa kemungkinan yang bisa terjadi:
1. Disney Terus Memaksakan Agenda dan Kehilangan Audiens – Jika mereka tidak mau berubah, film-film mereka akan semakin sering gagal, seperti yang sudah terjadi pada The Marvels, Wish, dan Indiana Jones and the Dial of Destiny.
2. Disney Akhirnya Menyadari Kesalahannya dan Kembali ke Akar – Jika mereka cukup bijak untuk belajar dari kesalahan, mereka bisa kembali ke model sukses lama mereka dengan membuat cerita yang menarik tanpa paksaan agenda.
3. Studio Lain Mengambil Alih Pasar Disney – Studio seperti Illumination (The Super Mario Bros. Movie) dan DreamWorks (Puss in Boots: The Last Wish) mulai menarik lebih banyak perhatian karena mereka lebih fokus pada hiburan ketimbang agenda politik.
Kesimpulan

Disney sedang berada di persimpangan jalan. Mereka bisa memilih antara belajar dari kesalahan dan kembali fokus pada pembuatan film yang berkualitas, atau terus memaksakan agenda mereka hingga kehilangan posisi sebagai pemimpin industri hiburan. Jika mereka tetap keras kepala, bukan tidak mungkin dalam satu atau dua dekade ke depan, kita akan melihat Disney sebagai “mantan legenda” yang kalah bersaing dengan studio lain yang lebih memahami keinginan penonton.
Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal yang pasti: Penonton tidak bodoh, dan mereka akan memilih dengan dompet mereka.