
Kalau dengar kata Garuda, kebanyakan orang langsung ingat sosok mitologis perkasa: separuh manusia, separuh burung, bersayap raksasa, jadi kendaraan Dewa Wisnu. Figur ini bukan barang baru—sudah muncul sejak abad ke-5 di prasasti, relief candi, sampai kisah Garuda Wisnu Kencana di Bali.
Tapi coba perhatikan Garuda Pancasila kita. Burungnya berparuh bengkok, sayap tegak, dada bidang, dan kaki mencengkeram pita. Kalau dicocokkan dengan ilmu ornitologi, bentuk itu jauh lebih mirip Elang Jawa—satwa endemik yang hidup di pegunungan Jawa—daripada Garuda mitologis yang kita kenal dalam relief kuno.
Kenapa bisa begini?

Konteks sejarah. Tahun 1950-an, Indonesia baru berdiri. Para perancang lambang negara mencari simbol yang gagah tapi juga netral, tidak terlalu “mistis” atau menempel pada satu agama. Pertimbangan politik. Figur Garuda mitologis dianggap terlalu kental nuansa Hindu-Buddha, sehingga rawan dipersoalkan. Hasil kompromi. Akhirnya dibuatlah burung bergaya modern, lebih sederhana, lebih mudah diterima semua pihak. Nama tetap “Garuda” karena sudah melekat di imajinasi nusantara, tapi wujudnya… jelas Elang Jawa.
Di sini kelihatan ada “politik simbol.” Kalau mau jujur, Indonesia sebenarnya bisa saja dari awal memilih Elang Jawa sebagai nama resmi lambang negara. Burung ini endemik, langka, dan punya kekuatan simbolis sebagai satwa asli Indonesia. Tidak kalah gagah, bahkan lebih otentik secara biologis. Tapi nama “Garuda” sudah terlalu besar untuk dilepas. Ia membawa bobot sejarah dan mitologi yang memberi kesan sakral sekaligus heroik. Jadinya, dipilih jalan tengah: nama Garuda, rupa Elang Jawa.
Apakah ini berarti puluhan tahun kita “dibohongi”? Mungkin bukan. Lebih tepatnya, ini contoh bagaimana simbol lahir dari kompromi. Nama Garuda dipakai untuk meminjam aura sakral sejarah, sedangkan bentuk Elang Jawa dipakai supaya bisa terasa nyata, gagah, dan nasionalis.
Namun, tetap ada sisi lucunya. Kalau anak kecil jujur bertanya: “Mana Garudanya? Kok kayak elang?” …ya, kita pun akan sedikit kikuk menjelaskan. 😅
Mungkin sudah waktunya kita melihatnya lebih jernih: lambang negara bukanlah cermin murni sejarah, tapi hasil editan politik dan kompromi budaya. Kita bisa tetap bangga padanya, sambil tetap kritis pada cerita di baliknya. Dan kalau suatu hari ada yang nyeletuk menyebutnya Elang Jawa Pancasila, setidaknya kita tahu… ada benarnya juga.
