
(Tentang kemunafikan, moral, dan siapa yang boleh pipis di mana)
Di negeri ini, “kodrat” itu kata ajaib. Bisa berubah arti tergantung siapa yang ngomong dan siapa yang diserang.
Kalau laki-laki rambutnya rontok, dibilang ujian. Tapi kalau perempuan tumbuh kumis, katanya ga sesuai kodrat. Padahal dua-duanya urusan hormon, bukan iman.
Kita semua, tanpa sadar, melanggar “kodrat” tiap hari; Gigi tonggos dipasangi behel, mata minus ditolong kacamata, kulit gelap di-bleaching, alis dicukur, hidung disuntik filler. Hampir nggak ada tuh yang protes.
Tapi giliran seseorang menyesuaikan tubuh dan penampilannya supaya sesuai dengan identitas dirinya — langsung muncul seribu suara tentang “takdir Tuhan.”
Lucunya, semua yang ngomong soal kodrat ini percaya mereka lagi membela moral. Padahal yang mereka bela cuma rasa nyaman pribadi. Dan di situ letak kemunafikannya.
Kemunafikan yang Terstruktur
Kalau laki-laki lembut sedikit, dibilang lemah. Tapi kalau perempuan agak maskulin, malah dipuji “tomboy keren.”
Perempuan boleh pakai celana, tapi laki-laki nggak boleh pakai rok. Perempuan bisa kerja di luar rumah, tapi kalau transpuan kerja dan sukses, dibilang “melenceng.” Standarnya selalu ganda.
Dan yang paling keras bicara moral, sering kali paling banyak menyesuaikan “kodratnya” dengan cara modern — dari krim anti-aging sampai transplant rambut.
Toilet, Tempat Paling Kodrat di Dunia?
Salah satu medan pertempuran paling absurd dari kata “kodrat” adalah… toilet. Ya, ruangan empat meter persegi yang seharusnya cuma tempat orang buang air.
Begitu ada isu soal transgender di toilet, orang-orang mendadak jadi ahli keamanan publik. Katanya, kalau transpuan masuk toilet perempuan, nanti bahaya. Bahaya dari siapa? Dari transpuannya — katanya.
Padahal riset di banyak negara (AS, Kanada, Australia) sudah menunjukkan: tidak ada peningkatan pelecehan di toilet umum setelah akses bagi transgender dibuka.
Sebaliknya, justru orang translah yang lebih sering jadi korban kekerasan dan intimidasi di tempat itu.
Jadi dalih “keamanan” ini sebenarnya bukan soal keamanan, tapi soal kemunafikan yang dibungkus rasa takut. Karena kalau alasan keamanan itu benar, mereka juga seharusnya takut dengan predator cisgender — yang datanya jelas lebih sering melakukan pelecehan. Tapi anehnya, topik itu jarang sekali diangkat.
Antara Moral dan Kenyamanan Pribadi
Mari jujur saja: banyak orang tidak sedang menjaga moral, mereka sedang menjaga zona nyaman egonya sendiri. Mereka ingin dunia tetap seperti yang mereka kenal, biar nggak perlu repot beradaptasi. Tapi mereka lupa, moral tanpa empati itu cuma dogma. Dan kodrat tanpa akal sehat cuma alat kontrol.
Kalau Memang Kodrat Itu Suci…
…kenapa kodratnya bisa ditawar?
Kenapa yang terlahir miskin boleh kaya, tapi yang terlahir dengan tubuh tertentu nggak boleh menyesuaikan identitasnya? Kenapa kodrat bisa jadi bahan fleksibel di tangan manusia, tapi mendadak jadi absolut kalau menyangkut orang lain?
Jawabannya sederhana: karena banyak yang bukan sedang membela kebenaran, tapi sedang menutupi kemunafikannya sendiri.
Mereka melanggar kodrat setiap hari, tapi tetap merasa suci karena dosa yang mereka benci adalah dosa orang lain.
Akhirnya…
“Kodrat” bukan alat ukur moral. Ia cuma refleksi dari cara manusia menertibkan rasa takut dan rasa jijik yang belum sempat diurai.
Dan kalau kita terus pakai kemunafikan sebagai kompas, kita akan terus tersesat — bahkan di hal sesederhana menentukan siapa yang boleh masuk toilet mana.