
Salah satu klaim dalam Al-Qur’an yang sering dikaitkan dengan ilmu pengetahuan adalah pernyataan bahwa gunung diciptakan sebagai “pasak” agar bumi tidak terguncang. Ayat ini sering digunakan untuk menunjukkan keselarasan kitab suci dengan sains. Namun, geologi modern justru menunjukkan fakta yang berlawanan.
Pernyataan dalam Al-Qur’an yang sering dikutip mengenai gunung sebagai “pasak” atau “pancang” bumi terdapat dalam beberapa ayat, misalnya:
- An-Naba’ (78:6-7):
“Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasak?” - An-Nahl (16:15):
“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu…”
Fakta Ilmiah Tentang Gunung dan Gempa Bumi
Secara ilmiah, gunung terbentuk akibat pergerakan lempeng tektonik, di mana tabrakan antar lempeng menyebabkan lapisan bumi terdorong ke atas dan membentuk pegunungan. Proses ini justru merupakan salah satu penyebab utama gempa bumi. Daerah yang memiliki banyak gunung, seperti pegunungan Himalaya atau lempeng subduksi di Indonesia, justru dikenal sebagai wilayah dengan aktivitas seismik tinggi.
Jika gunung benar-benar berfungsi sebagai “pasak” yang mencegah bumi dari guncangan, maka daerah pegunungan seharusnya menjadi tempat yang paling stabil. Namun, kenyataannya justru sebaliknya: daerah dengan banyak gunung adalah daerah yang paling rawan gempa. Hal ini membuktikan bahwa konsep gunung sebagai penahan guncangan tidak sesuai dengan realitas geologis.

Fenomena Tafsir yang Berubah-Ubah
Ketika ditemukan ketidaksesuaian antara ayat-ayat Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan, muncul berbagai reaksi dari para ahli tafsir:
- Tafsir Tradisional (Literal)
- Dulu, ayat tentang gunung sebagai pasak dianggap harfiah: bahwa gunung benar-benar menahan bumi dari guncangan.
- Tafsir Ilmiah (Modernisasi)
- Ketika sains membuktikan bahwa gunung tidak mencegah gempa, tafsir bergeser: “Pasak” diartikan sebagai stabilisator ekologi, bukan penahan gempa.
- Tafsir Filosofis (Metaforis)
- Saat semakin sulit mempertahankan relevansi ilmiah, ayat tersebut dianggap sebagai metafora keseimbangan alam.
- Tafsir Agnostik (Kebingungan)
- Jika semua pendekatan gagal, muncul argumen: “Hanya Allah yang tahu makna sebenarnya.”
Polanya sangat jelas: setiap kali ilmu pengetahuan membuktikan ketidaktepatan suatu ayat, tafsirnya berubah agar tetap tampak relevan. Jika ada ayat yang kebetulan sesuai dengan sains, langsung diklaim sebagai “mukjizat ilmiah” dalam Al-Qur’an. Namun, jika ada ayat yang bertentangan, mereka berlindung di balik metafora atau misteri ilahi.

Selektif dalam Mengklaim Kebenaran
Sikap ini menunjukkan adanya ketidakkonsistenan dalam cara kitab suci dipertahankan sebagai “ilmiah”. Para pendukungnya cepat-cepat mengklaim kemenangan ketika ada ayat yang cocok dengan penemuan ilmiah, tetapi ketika ada yang bertentangan, mereka menolak mengaku kalah dengan berbagai alasan:
- “Sains masih berkembang, nanti bisa berubah.”
- “Ini bukan harus dipahami secara harfiah.”
- “Manusia tidak akan pernah memahami ilmu Tuhan sepenuhnya.”
Padahal, jika suatu kitab benar-benar berasal dari Tuhan yang Maha Mengetahui, seharusnya isinya tetap akurat dan tidak memerlukan reinterpretasi terus-menerus. Jika manusia terus menerka-nerka maknanya agar tampak sesuai dengan zaman, bukankah ini menunjukkan bahwa kitab tersebut tidak memiliki kejelasan dan kebenaran mutlak?
Kesimpulan: Apakah Al-Qur’an Sesuai dengan Sains?
Berdasarkan fakta ilmiah, konsep gunung sebagai pasak yang mencegah gempa tidak sesuai dengan realitas geologi. Justru, daerah pegunungan adalah wilayah yang paling sering mengalami gempa bumi karena aktivitas tektonik yang terjadi di bawahnya.
Jika suatu kitab dianggap sebagai sumber ilmu pengetahuan yang sempurna, seharusnya semua isinya tetap akurat dan tidak perlu ditafsir ulang agar tetap relevan. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa tafsir terus berubah demi menyesuaikan dengan perkembangan sains.
Pada akhirnya, pertanyaan yang muncul adalah: apakah Al-Qur’an benar-benar mengandung kebenaran ilmiah, atau hanya permainan tafsir yang terus disesuaikan dengan zaman? Kita hidup di era ilmu pengetahuan—dan sudah saatnya menerima kenyataan, bukan sekadar mencari-cari kecocokan yang tidak ada.